indonetra.com – Konser Andrea Bocelli di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada Sabtu (31/10/2026), berlangsung di tengah aksi penolakan sejumlah kelompok masyarakat yang menyuarakan solidaritas untuk Palestina.
Penolakan tersebut tidak menghentikan penyelenggaraan pertunjukan bertajuk Andrea Bocelli Romanza 30th Anniversary World Tour Indonesia yang menghadirkan penyanyi tenor asal Italia tersebut di kawasan warisan budaya dunia.
Di luar area konser, massa dari berbagai organisasi masyarakat menggelar aksi penyampaian aspirasi, tablig akbar, dan doa bersama sebagai bentuk keberatan terhadap kehadiran Bocelli di Indonesia.
Aksi penolakan konser Andrea Bocelli melibatkan berbagai ormas
Gelombang demonstrasi di kawasan Borobudur melibatkan sejumlah kelompok masyarakat dari Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Jawa Pos Radar Magelang melaporkan bahwa sekitar 70 organisasi masyarakat turut memberikan dukungan terhadap gerakan penolakan tersebut.
Peserta aksi membawa atribut Palestina dan menyampaikan tuntutan agar penyelenggara memberikan kejelasan mengenai dugaan keterkaitan Andrea Bocelli dengan Israel.
Koordinator aksi menyebut kegiatan tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat Palestina sekaligus respons terhadap rekam jejak sang penyanyi yang menjadi sorotan.
Alasan MUI menolak kehadiran Andrea Bocelli
Polemik konser ini sebelumnya mencuat setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan surat pernyataan sikap bernomor Kep-111/DP-MUI/X/2026 pada 13 Oktober 2026.
Dalam pernyataannya, MUI menyoroti keterlibatan Bocelli dalam konser penggalangan dana Friends of Israel Defence Forces di Los Angeles pada 2010 serta penampilannya di Tel Aviv pada 2022.
Berdasarkan penelusuran tersebut, MUI meminta pemerintah membatalkan seluruh agenda konser Andrea Bocelli di Indonesia.
Sikap tersebut dikaitkan dengan Pembukaan UUD 1945 dan Fatwa MUI Nomor 83 Tahun 2023 mengenai hukum dukungan terhadap perjuangan Palestina.
Perlu dibedakan bahwa penilaian mengenai keberpihakan Bocelli terhadap Israel merupakan pandangan yang disampaikan MUI berdasarkan rekam jejak yang mereka soroti.
Promotor tetap menggelar konser dan menawarkan bantuan kemanusiaan
Di tengah penolakan tersebut, Shoemaker Live tetap mempertahankan jadwal pertunjukan setelah melakukan komunikasi dengan sejumlah pihak terkait.
Promotor menyatakan penyelenggaraan konser mempertimbangkan aspek pariwisata, kebudayaan, dan ekonomi kreatif nasional.
Founder Shoemaker Live, Prajna Murdaya, juga mengumumkan inisiatif bantuan berupa 100.000 pasang sepatu untuk anak-anak di Tanah Suci dan wilayah lain yang terdampak konflik.
Pihak penyelenggara turut menyampaikan rencana menghadirkan pesan kemanusiaan dan perdamaian dalam rangkaian pertunjukan tersebut.
Polisi pastikan aksi dan konser berlangsung kondusif
Polda Jawa Tengah menyampaikan bahwa konser dan kegiatan penyampaian aspirasi pada 31 Oktober 2026 berlangsung aman dan kondusif.
Kepolisian mengapresiasi masyarakat yang mampu menjaga ketertiban meskipun terdapat perbedaan pandangan terhadap penyelenggaraan acara.
Setelah pertunjukan di Borobudur, agenda berikutnya dijadwalkan berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 3 November 2026.
Polemik ini memperlihatkan bahwa penyelenggaraan pertunjukan internasional tidak hanya berkaitan dengan industri hiburan, tetapi juga dapat bersinggungan dengan persoalan sosial, keagamaan, dan solidaritas kemanusiaan.
(YS/idn)
yuk, kenalan lebih dekat dengan penulis.

Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI), fokus pada penulisan artikel berbasis riset. Berpengalaman sebagai jurnalis freelance di berbagai media online, mengedepankan akurasi, kredibilitas, dan penyajian informasi yang mudah dipahami.












