Indonetra.com – Influenza A(H3N2) subclade K yang belakangan populer disebut “super flu” telah terdeteksi di 13 provinsi di Indonesia.
Berdasarkan data kumulatif sejak Januari 2026, jumlah deteksi terbanyak tercatat di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.
Data tersebut tercantum dalam Laporan Pengawasan Kasus Influenza dan COVID-19 per 19 September 2026 atau Minggu ke-37.
Kementerian Kesehatan menyebut data yang digunakan merupakan akumulasi temuan sejak awal tahun, sehingga angka tersebut tidak menunjukkan jumlah kasus yang muncul hanya dalam satu pekan.
Apa Itu Super Flu?
“Super flu” merupakan istilah populer yang digunakan untuk menyebut influenza A(H3N2) subclade K.
Secara ilmiah, subclade K bukan jenis virus influenza baru, melainkan salah satu cabang dari influenza A(H3N2).
Karena istilah “super flu” bukan nama diagnosis resmi, masyarakat sebaiknya tidak menganggapnya sebagai penyakit yang sepenuhnya berbeda dari influenza.
Informasi mengenai tingkat keparahan juga perlu dilihat berdasarkan bukti ilmiah dan kondisi masing-masing pasien.
Kementerian Kesehatan sebelumnya melaporkan bahwa aktivitas influenza di Indonesia masih berada dalam kategori rendah dan sesuai dengan pola musiman.
Dalam laporan hingga 19 September 2026, proporsi spesimen positif influenza memang meningkat dibandingkan pekan sebelumnya, tetapi data tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah.
13 Provinsi yang Mencatat Subclade K
Berdasarkan data kumulatif sejak Januari 2026, influenza A(H3N2) subclade K telah terdeteksi di 13 provinsi.
Jawa Timur dan Kalimantan Selatan masing-masing mencatat 18 kasus.
Berikut sebarannya:
| Provinsi | Kasus |
|---|---|
| Jawa Timur | 18 |
| Kalimantan Selatan | 18 |
| Jawa Barat | 12 |
| DKI Jakarta | 11 |
| Sumatera Selatan | 5 |
| Sumatera Utara | 3 |
| Bali | 2 |
| Nusa Tenggara Timur | 2 |
| Nusa Tenggara Barat | 1 |
| Sulawesi Utara | 1 |
| Jawa Tengah | 1 |
| Sulawesi Selatan | 1 |
| DI Yogyakarta | 1 |
Dengan demikian, temuan subclade K tidak hanya berada di Pulau Jawa.
Kasus juga tercatat di sejumlah wilayah Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi.
Siapa yang Perlu Lebih Waspada?
Influenza dapat menimbulkan kondisi yang lebih serius pada kelompok tertentu.
Anak balita dan lanjut usia termasuk kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami keparahan ketika terkena influenza.
Risiko juga dapat meningkat pada orang dengan penyakit penyerta atau kondisi yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh.
Kelompok tersebut antara lain orang dengan penyakit jantung, kanker, HIV, serta mereka yang menggunakan obat penekan sistem imun.
Meski subclade K menjadi perhatian karena perubahan genetik pada virus influenza, temuan virus tersebut tidak berarti setiap orang yang terinfeksi pasti mengalami penyakit berat.
Kondisi pasien, usia, penyakit penyerta, serta faktor lainnya tetap berpengaruh terhadap perjalanan infeksi.
Masyarakat yang mengalami gejala influenza, terutama jika keluhan berat atau terjadi pada kelompok berisiko, sebaiknya mendapatkan penilaian medis.
Upaya pencegahan influenza secara umum, termasuk menjaga kebersihan dan mempertimbangkan imunisasi influenza sesuai anjuran tenaga kesehatan, tetap relevan.
(MD/idn)
yuk, kenalan lebih dekat dengan penulis.

Penulis yang berfokus pada topik kesehatan, perawatan tubuh, dan tips kecantikan. Selalu menyajikan informasi yang akurat, mudah dipahami, serta berdasarkan referensi tepercaya untuk membantu pembaca menjalani hidup yang lebih sehat dan percaya diri.












