indonetra.com – Aktivitas kegunungapian di perairan Selat Sunda kembali menyita perhatian publik.
Bukan lagi sekadar letusan rutin berkolom ratusan meter yang selama ini kerap terjadi, melainkan sebuah erupsi berskala tinggi yang bahkan memicu peringatan resmi bagi jalur penerbangan di kawasan Jakarta dan Melbourne.
Anak Krakatau Erupsi 4 Kali dalam Sejam, Aktivitas Masih Fluktuatif
Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda kembali menunjukkan pola erupsi beruntun pada Jumat (4/9/2026), dengan tercatat empat kali letusan hanya dalam rentang waktu sekitar satu jam.
Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) via MAGMA Indonesia, rangkaian erupsi tersebut menjadi bagian dari pola aktivitas vulkanik yang memang masih fluktuatif sejak status gunung ini dinaikkan ke Level III (Siaga) awal Juli 2026 lalu.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, kembali menegaskan bahwa peningkatan frekuensi letusan dalam waktu berdekatan bukan berarti otomatis mengindikasikan letusan yang lebih besar akan segera terjadi.
Melainkan bagian dari dinamika normal yang terus dipantau lewat data seismograf maupun pengamatan visual selama 24 jam penuh.
Malam Harinya, Terjadi Erupsi Berskala Sangat Tinggi
Situasi berubah signifikan menjelang tengah malam. Berdasarkan pemantauan Darwin Volcanic Ash Advisory Center (VAAC), Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi berskala tinggi yang melontarkan abu vulkanik hingga ketinggian sekitar 15 kilometer di atas permukaan laut, tepatnya pada pukul 00.50 WIB, 5 September 2026 (setara 17.50 UTC, 4 September 2026).
Estimasi ketinggian ini dihitung berdasarkan suhu puncak awan inframerah yang mencapai -68 derajat Celsius, dengan analisis citra satelit Himawari-9 serta model konsensus prediksi cuaca.
Darwin VAAC mencatat sebaran abu vulkanik bergerak ke arah barat dengan kecepatan sekitar 74 km/jam, sementara lapisan abu kedua yang lebih rendah, sekitar 5,5 kilometer, teramati bergerak ke arah selatan.
Menyusul peningkatan drastis ini, otoritas penerbangan mengeluarkan peringatan SIGMET untuk wilayah informasi penerbangan (FIR) Jakarta dan Melbourne guna mengantisipasi risiko terhadap lalu lintas udara di sekitar area terdampak.
Rangkuman Aktivitas Anak Krakatau, 4-5 September 2026
| Waktu | Aktivitas | Ketinggian Kolom Abu |
|---|---|---|
| Jumat (4/9/2026) siang-sore | 4 kali erupsi dalam sejam | Ratusan meter di atas puncak |
| Jumat (4/9/2026) 23.00 WIB | Peningkatan awal terdeteksi Darwin VAAC | ±2 km (FL070) |
| Sabtu (5/9/2026) 00.50 WIB | Erupsi berskala tinggi | ±15 km di atas permukaan laut |
| Sabtu (5/9/2026) 01.50 WIB | Dua lapisan abu teridentifikasi via satelit | Permukaan hingga 15 km |
Status Tetap Level III Siaga, Radius Bahaya Tak Berubah
Meski terjadi lonjakan aktivitas signifikan, status Gunung Anak Krakatau hingga saat ini masih ditetapkan pada Level III atau Siaga, level yang sama sejak awal Juli 2026.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tetap merekomendasikan agar masyarakat, wisatawan, nelayan, maupun pendaki tidak mendekati kawasan gunung api tersebut dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif, mengingat potensi bahaya lontaran material vulkanik masih terus mengintai.
Nelayan yang beraktivitas di perairan sekitar Selat Sunda juga diimbau untuk terus memantau perkembangan informasi resmi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau maupun kondisi cuaca sebelum melaut, mengingat gunung api ini berada di sebuah pulau tak berpenghuni yang aktivitasnya kerap berubah secara fluktuatif.
Sejarah Kelam yang Membuat Setiap Peningkatan Aktivitas Diwaspadai
Kewaspadaan tinggi terhadap setiap perubahan aktivitas Anak Krakatau tidak lepas dari catatan sejarah kelam gunung ini.
Longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau pada 22 Desember 2018 pernah memicu tsunami dahsyat di kawasan Selat Sunda tanpa peringatan dini, menewaskan ratusan jiwa dan melukai ribuan warga di pesisir Banten dan Lampung.
Anak Krakatau sendiri lahir dari kaldera peninggalan letusan besar Krakatau pada 1883, salah satu peristiwa vulkanik paling mematikan dalam sejarah dunia.
Dengan latar belakang sejarah tersebut, setiap lonjakan signifikan pada aktivitas erupsi, seperti kolom abu yang menembus ketinggian 15 kilometer kali ini, wajar memicu perhatian ekstra dari otoritas kebencanaan maupun masyarakat sekitar, meski hingga kini belum ada laporan mengenai potensi tsunami susulan akibat peristiwa tersebut.
Imbauan bagi Masyarakat dan Sektor Penerbangan
Menyusul peningkatan status sebaran abu vulkanik, masyarakat di wilayah pesisir Lampung dan Banten diimbau tetap tenang namun waspada, serta mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan Badan Geologi ESDM.
Pihak maskapai penerbangan yang beroperasi di sekitar FIR Jakarta dan Melbourne juga diminta memperhatikan peringatan SIGMET yang telah diterbitkan, mengingat sebaran abu vulkanik pada ketinggian tersebut berpotensi mengganggu jalur penerbangan komersial.
Kesimpulan
Rangkaian aktivitas Gunung Anak Krakatau sepanjang awal September 2026, mulai dari empat kali erupsi dalam sejam hingga lonjakan drastis kolom abu yang menembus 15 kilometer di malam harinya, menegaskan bahwa gunung api ini masih dalam fase aktivitas vulkanik yang tinggi dan fluktuatif.
Meski status masih bertahan di Level III Siaga, masyarakat dan sektor penerbangan tetap perlu mewaspadai setiap perkembangan lebih lanjut, mengingat sejarah panjang gunung ini yang pernah memicu bencana besar di kawasan Selat Sunda.
YS/idn
yuk, kenalan lebih dekat dengan penulis.

Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI), fokus pada penulisan artikel berbasis riset. Berpengalaman sebagai jurnalis freelance di berbagai media online, mengedepankan akurasi, kredibilitas, dan penyajian informasi yang mudah dipahami.












