indonetra.com – Gunung Anak Krakatau (GAK) mengalami 15 kali erupsi dalam rentang pengamatan pada 31 Oktober hingga 1 November 2026, disertai tremor menerus dengan intensitas cukup kuat.
Peningkatan aktivitas vulkanik tersebut membuat Badan Geologi meminta nelayan dan wisatawan meningkatkan kewaspadaan serta menjauhi kawasan yang masuk dalam rekomendasi bahaya.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Rita Susilawati, menyampaikan bahwa rangkaian erupsi berlangsung secara berselang sejak Sabtu, 31 Oktober 2026 pukul 18.30 WIB hingga Minggu, 1 November 2026 pukul 01.31 WIB.
“Hasil pemantauan yang dilakukan oleh Badan Geologi dari 31 Oktober jam 18.30 hingga 1 November jam 1.31 WIB itu telah terjadi 15 kali erupsi secara berselang atau intermiten,” kata Rita dalam keterangan video, Minggu (1/11/2026).
Rekaman kegempaan juga menunjukkan aktivitas tremor yang berlangsung terus-menerus setelah rangkaian letusan tersebut.
Rita menjelaskan bahwa tremor dengan intensitas cukup kuat masih terpantau sejak pukul 04.00 WIB pada hari yang sama.
PVMBG Tetapkan Radius Bahaya Gunung Anak Krakatau
Aktivitas Gunung Anak Krakatau berpotensi menghasilkan lontaran material vulkanik, lava pijar, dan hujan abu yang dapat membahayakan masyarakat di sekitarnya.
PVMBG merekomendasikan nelayan dan wisatawan tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.
Masyarakat juga diminta menjauhi area dalam radius 1 kilometer dari Pulau Baru yang berada di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau.
“Di antaranya untuk di sekitar tubuh gunung tadi pada radius 5 km berupa lontaran batu, lava pijar dan hujan abu,” jelas Rita.
Bahaya abu vulkanik tidak hanya terbatas di sekitar kawah karena material tersebut dapat terbawa angin menuju wilayah yang lebih jauh.
Jarak penyebarannya bergantung pada kondisi dan arah angin saat aktivitas erupsi berlangsung.
Badan Geologi juga menjelaskan bahwa Anak Krakatau merupakan gunung api aktif yang masih mengalami proses pertumbuhan.
Erupsi dan keluarnya material vulkanik menjadi bagian dari proses alami pembentukan tubuh gunung tersebut, meskipun potensi bahayanya tetap perlu diantisipasi.
Aktivitas Anak Krakatau Dipantau, Potensi Tsunami Belum Terindikasi
Catatan kegempaan periode 2023 hingga 2026 memperlihatkan perubahan aktivitas Gunung Anak Krakatau dalam beberapa tahun terakhir.
Aktivitas mengalami peningkatan pada akhir 2023, kemudian cenderung lebih tenang sepanjang 2024 hingga 2025 sebelum kembali meningkat pada 2026.
Untuk memantau perkembangannya, Badan Geologi menggunakan kamera pengawas atau CCTV serta instrumen kegempaan yang ditempatkan di sejumlah lokasi pengamatan.
Beberapa titik pemantauan tersebut meliputi Stasiun Tanjung, Stasiun Lava, dan Pulau Sertung.
Informasi aktivitas gunung api juga terhubung secara otomatis dengan Kementerian Perhubungan dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Integrasi data tersebut membantu pihak berwenang mengambil keputusan terkait keselamatan navigasi penerbangan, termasuk apabila diperlukan pengaturan jalur penerbangan atau penutupan bandara.
Di tengah peningkatan aktivitas vulkanik, Badan Geologi menyatakan belum menemukan indikasi yang mengarah pada potensi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau saat pemantauan dilakukan.
“Tidak menunjukkan indikasi yang mengarah pada potensi tsunami,” kata Rita.
Masyarakat pesisir Banten dan Lampung tetap diimbau mengikuti informasi resmi serta arahan petugas, sementara nelayan dan wisatawan diminta mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan dari PVMBG.
(YS/idn)
yuk, kenalan lebih dekat dengan penulis.

Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI), fokus pada penulisan artikel berbasis riset. Berpengalaman sebagai jurnalis freelance di berbagai media online, mengedepankan akurasi, kredibilitas, dan penyajian informasi yang mudah dipahami.












