indonetra.com – Penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan diperkuat melalui tambahan 500 ribu masker untuk setiap provinsi terdampak, penyediaan oksigen, serta peningkatan layanan kesehatan darurat.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat kabut asap yang dapat menghambat aktivitas warga, terutama anak-anak, ibu hamil, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta.
Langkah ini juga menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak cukup berfokus pada pemadaman api, tetapi perlu mencakup perlindungan masyarakat yang menghirup udara tercemar.
Distribusi Masker dan Rumah Oksigen Diperkuat di Tujuh Provinsi
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menginstruksikan pengiriman tambahan 500 ribu masker untuk masing-masing provinsi terdampak dalam rapat koordinasi penanganan karhutla pada 17 Oktober 2026.
Tujuh provinsi yang menjadi perhatian meliputi Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.
Selain masker, pemerintah menyiapkan konsentrator oksigen dan obat-obatan dengan jumlah yang disesuaikan berdasarkan kebutuhan setiap daerah.
Seluruh puskesmas di wilayah terdampak juga diminta membuka layanan rumah oksigen serta memastikan ketersediaan obat untuk menangani infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare.
Rumah oksigen menjadi bagian dari layanan darurat bagi warga yang membutuhkan dukungan pernapasan, sementara fasilitas kesehatan tetap berperan dalam menilai kondisi dan menentukan penanganan medis.
Asap Karhutla Berisiko bagi Kelompok Rentan
Asap kebakaran mengandung partikel halus PM2.5 yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru ketika terhirup, sehingga paparan berkepanjangan berisiko memperburuk gangguan pernapasan.
Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang yang memiliki asma atau penyakit paru perlu mendapat perhatian khusus ketika kualitas udara memburuk.
Untuk menjaga akses pelayanan, Kementerian Kesehatan bersama pemerintah daerah dan tenaga kesehatan juga menyiapkan layanan posyandu dari rumah ke rumah bagi anak, ibu hamil, dan lansia.
Tim Pusat Krisis Kesehatan turut diturunkan untuk memantau penyaluran bantuan, operasional rumah oksigen, serta kebutuhan warga di lokasi terdampak.
Upaya tersebut penting karena bantuan yang tersedia harus benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan dan diikuti pelayanan medis yang memadai.
Warga sebaiknya membatasi aktivitas di luar ruangan saat asap pekat, menggunakan respirator yang sesuai seperti N95 ketika harus keluar, dan mengikuti informasi kualitas udara serta imbauan pemerintah daerah.
Jika muncul sesak napas, nyeri dada, atau gangguan pernapasan yang memburuk, segera cari pertolongan medis di fasilitas kesehatan terdekat.
(YS/idn)
yuk, kenalan lebih dekat dengan penulis.

Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI), fokus pada penulisan artikel berbasis riset. Berpengalaman sebagai jurnalis freelance di berbagai media online, mengedepankan akurasi, kredibilitas, dan penyajian informasi yang mudah dipahami.












