Example floating
Example floating
DaerahZona Berita

Imbas Kabut Asap di Manokwari, Dinkes Bagikan 4.000 Masker

8
×

Imbas Kabut Asap di Manokwari, Dinkes Bagikan 4.000 Masker

Sebarkan artikel ini
Imbas Kabut Asap Manokwari, Dinkes Bagikan 4.000 Masker
Imbas Kabut Asap Manokwari, Dinkes Bagikan 4.000 Masker

indonetra.com – Kabut asap Manokwari membuat perlindungan kesehatan warga menjadi perhatian serius setelah keluhan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) meningkat di wilayah tersebut, sehingga Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari membagikan 4.000 masker pada Kamis, 8 Oktober 2026.

Langkah ini ditujukan untuk mengurangi paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari Alexander Takdare menjelaskan bahwa pembagian masker merupakan tindak lanjut dari surat edaran bupati mengenai peningkatan kewaspadaan dan perlindungan kesehatan masyarakat selama kabut asap berlangsung.

Dua titik pembagian masker di Manokwari

Petugas kesehatan menyalurkan ribuan masker di dua persimpangan yang menjadi lokasi aktivitas masyarakat, yakni lampu merah Haji Bauw dan Makaleuw.

Masing-masing lokasi memperoleh kuota 2.000 masker, sehingga total bantuan yang disiapkan mencapai 4.000 masker untuk warga.

Pembagian secara langsung di kawasan persimpangan memungkinkan petugas menjangkau pengguna jalan, termasuk pengendara sepeda motor yang terpapar udara luar selama perjalanan.

Respons masyarakat terhadap kegiatan tersebut dilaporkan cukup tinggi, mencerminkan perhatian warga terhadap potensi gangguan pernapasan akibat asap yang menyelimuti wilayah Manokwari.

Baca Juga :  Tarif Tol Malang-Paiton Saat Prosiwangi Gratis 14 Hari

Dinkes juga membuka kemungkinan pembagian masker lanjutan apabila kondisi kabut asap belum membaik dan pelaksanaannya memungkinkan.

Keluhan ISPA di Puskesmas Wosi meningkat

Dampak kabut asap terhadap kesehatan terlihat dari laporan Puskesmas Wosi yang mencatat kenaikan kunjungan pasien dengan keluhan ISPA hampir 40 persen sejak pekan sebelumnya.

Kepala Puskesmas Wosi Selfiana Safkaur menyebut anak-anak dan warga lanjut usia sebagai kelompok yang paling banyak ditemukan di antara pasien dengan keluhan tersebut.

Petugas kesehatan telah mengantisipasi kondisi itu dengan membagikan masker kepada pasien yang datang berobat, terutama ibu hamil, balita, lansia, serta orang yang memiliki faktor risiko kesehatan.

Pasien yang mengalami gangguan pernapasan juga mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis dari dokter serta tim pelayanan puskesmas.

Meski kenaikan kunjungan pasien menjadi perhatian, angka tersebut merupakan laporan dari Puskesmas Wosi dan tidak otomatis menggambarkan seluruh kasus ISPA di Kabupaten Manokwari.

Mengapa kabut asap perlu diwaspadai?

Asap kebakaran mengandung partikel dan zat pencemar yang dapat mengiritasi saluran pernapasan, memicu batuk, serta memperburuk kondisi orang yang memiliki gangguan pernapasan sebelumnya.

Paparan dapat menjadi persoalan bagi warga yang bekerja di luar ruangan, pengendara, pedagang, dan anak-anak yang masih menjalani kegiatan sehari-hari di tengah kondisi udara yang tidak sehat.

Baca Juga :  Daftar 5 Provinsi Terdampak Abu Vulkanik Anak Krakatau

Risiko juga perlu diperhatikan pada ibu hamil, lansia, balita, serta orang dengan riwayat asma atau penyakit paru-paru karena kelompok tersebut membutuhkan perlindungan lebih ketat.

Pembagian masker merupakan salah satu langkah pengurangan paparan, tetapi penggunaannya tidak menjamin seseorang sepenuhnya terlindungi dari seluruh polutan dalam asap.

Langkah warga untuk mengurangi paparan asap

Dinkes Manokwari mengimbau masyarakat mengurangi kegiatan di luar rumah selama kabut asap masih menyelimuti wilayah tersebut, khususnya apabila aktivitas tidak mendesak.

Jika harus bepergian, warga dianjurkan menggunakan masker yang sesuai untuk menyaring partikel udara dan memastikan masker terpasang rapat pada wajah.

Masyarakat juga sebaiknya menghindari aktivitas fisik berat di luar ruangan ketika asap pekat karena peningkatan frekuensi dan kedalaman napas dapat menambah jumlah polutan yang terhirup.

Apabila memungkinkan, tutup pintu dan jendela ketika asap masuk ke lingkungan permukiman, serta gunakan penyaring udara dalam ruangan jika tersedia.

Orang tua perlu membatasi aktivitas bermain anak di luar rumah selama kondisi udara memburuk, sedangkan warga dengan penyakit pernapasan sebaiknya mengikuti petunjuk pengobatan dari tenaga kesehatan.

Baca Juga :  Gempa M4,9 Guncang Flores, Terasa hingga Manggarai Barat

Keluhan seperti sesak napas, nyeri dada, atau kesulitan bernapas memerlukan pertolongan medis segera, terutama jika gejalanya berat atau memburuk.

Penanganan kabut asap membutuhkan kewaspadaan berkelanjutan

Kabut asap yang masih dipengaruhi kebakaran di wilayah lain, termasuk Teluk Bintuni, Manokwari Selatan, dan Kaimana, menjadi salah satu perhatian pemerintah daerah dalam menentukan langkah perlindungan masyarakat.

Selain intervensi kesehatan, pemerintah daerah juga menerapkan pembelajaran jarak jauh melalui Dinas Pendidikan Manokwari untuk mengurangi risiko paparan asap pada peserta didik.

Warga perlu terus memantau informasi resmi mengenai kondisi udara dan kebijakan setempat, sambil membatasi paparan hingga situasi membaik.

Jumlah masker yang dibagikan menjadi langkah awal perlindungan di lapangan, sedangkan pengendalian sumber kebakaran dan pemulihan kualitas udara tetap penting untuk mengurangi risiko kesehatan masyarakat dalam jangka lebih panjang.

(YS/idn)


yuk, kenalan lebih dekat dengan penulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *