Example floating
Example floating
DaerahZona Berita

Api Masih Terdeteksi di Way Kambas, Petugas Perluas Penyisiran

6
×

Api Masih Terdeteksi di Way Kambas, Petugas Perluas Penyisiran

Sebarkan artikel ini
Api Masih Terdeteksi di Way Kambas, Petugas Perluas Penyisiran
Api Masih Terdeteksi di Way Kambas, Petugas Perluas Penyisiran

indonetra.com – Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, masih dalam penanganan tim gabungan hingga Rabu, 30 September 2026.

Petugas masih menemukan sejumlah titik api meski pemadaman telah dilakukan melalui jalur darat dan udara.

Upaya pemadaman dari udara bahkan telah dilakukan sebanyak 64 kali water bombing menggunakan helikopter.

Namun, penyiraman dari udara belum sepenuhnya menghentikan munculnya asap dan titik panas di kawasan yang terbakar.

Lima Titik Api Masih Terdeteksi

Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Yuni Iswandari Yuyun mengatakan pemantauan terakhir menemukan enam hotspot di kawasan TNWK.

Dari jumlah tersebut, lima titik telah dikonfirmasi sebagai titik api nyata atau real hotspot berdasarkan pemantauan menggunakan aplikasi Sipongi dan data BMKG Lampung.

Kondisi tersebut membuat proses pemadaman masih harus dilanjutkan meskipun sejumlah area sebelumnya telah mendapatkan penanganan.

Baca Juga :  BYD Recall 180 Ribu Unit Mobil, Ini Sebabnya

Sebanyak 150 personel gabungan dikerahkan untuk melakukan pemadaman melalui jalur darat dan udara.

Personel tersebut berasal dari TNWK, TNI, Polri, BPBD, Mitra KHS, Mitra RPU YABI, serta unsur masyarakat.

Petugas di lapangan dibagi menjadi beberapa kelompok dengan tugas berbeda, mulai dari memetakan kondisi kebakaran, membuka akses menuju titik api, hingga melakukan pemadaman secara langsung.

Helikopter Sudah Lakukan 64 Kali Penyiraman

Operasi udara menjadi salah satu metode yang digunakan karena sebagian titik kebakaran berada di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Pada Selasa, 29 September 2026, pemadaman dilakukan dalam dua sortie penerbangan.

Pada penerbangan pertama, helikopter melakukan 32 kali water bombing dengan cakupan area sekitar empat hektare.

Penerbangan kedua kembali melakukan 32 kali penyiraman dengan cakupan sekitar tiga hektare.

Dengan demikian, total terdapat 64 kali water bombing dalam dua penerbangan tersebut.

Baca Juga :  Daftar 5 Provinsi Terdampak Abu Vulkanik Anak Krakatau

Meski sudah dilakukan penyiraman dari udara, petugas masih menemukan titik yang mengeluarkan asap sehingga pemadaman darat tetap diperlukan.

Di jalur darat, petugas menggunakan sejumlah peralatan, termasuk pompa portabel, selang, jet shooter, dan peralatan manual untuk mengendalikan api.

Medan Sulit dan Sumber Air Jadi Kendala

Salah satu persoalan yang dihadapi petugas adalah jarak antara titik api dan sumber air.

Di Grid 30 U, jarak titik api menuju Sungai Way Pegadungan mencapai sekitar tiga kilometer.

Sementara itu, titik api di Grid 31 T berjarak sekitar 1,7 kilometer dari sumber air tersebut.

Kondisi akses yang terbatas dan sumber air yang mengalami kekeringan turut menyulitkan proses pemadaman dari darat.

Untuk mendekatkan akses ke lokasi kebakaran dan sumber air, petugas membuka jalur pemadaman baru sepanjang sekitar satu kilometer.

Baca Juga :  Perbedaan Perlinsos dengan Bansos yang Wajib Diketahui Masyarakat

Luasan kawasan yang terdampak juga masih dalam pemantauan.

BPBD Lampung sebelumnya memperkirakan area yang terbakar mencapai sekitar 15 hektare berdasarkan pemantauan udara.

Namun, Polda Lampung pada perkembangan terbaru menyatakan luas keseluruhan lahan yang terbakar belum dapat dipastikan karena kondisi medan dan titik api masih terus dipantau.

Karhutla di TNWK menjadi perhatian karena kawasan tersebut merupakan habitat berbagai satwa liar, termasuk gajah Sumatera.

Karena itu, selain memadamkan api, tim gabungan juga melakukan penyisiran untuk memastikan titik yang telah ditangani tidak kembali terbakar dan api tidak meluas ke bagian lain kawasan konservasi.

(YS/idn)


yuk, kenalan lebih dekat dengan penulis.

Tag:
Penulis: Yulia SaraswatiEditor: Yulia Saraswati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *