indonetra.com – Fenomena cahaya biru atau blue fire kembali muncul di kawasan Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Fenomena tersebut teramati di kawasan Kawah Manuk pada September 2026 dan menarik perhatian karena kemunculannya berada di area yang berdekatan dengan jalur pendakian.
Badan Geologi kemudian melakukan pemeriksaan untuk mengetahui karakteristik fenomena tersebut sekaligus potensi bahaya yang mungkin ditimbulkan.
Apa Penyebab Blue Fire di Papandayan?
Berdasarkan laporan Badan Geologi, kemunculan blue fire berkaitan dengan pelepasan panas yang cukup tinggi di area manifestasi panas baru di Kawah Manuk.
Panas tersebut dapat menyebabkan material di permukaan mengalami pemanasan atau pembakaran hingga menghasilkan sinar api berwarna biru.
Fenomena tersebut berkaitan dengan material yang mengandung belerang di kawasan solfatara.
Di sekitar lokasi, tim juga menemukan serbuk yang menyerupai abu sisa pembakaran dan diduga berkaitan dengan proses pemanasan material permukaan akibat paparan panas.
Perubahan Kawah Manuk Masih Dikaji
Badan Geologi mencatat bukaan Kawah Manuk cenderung mengalami penyempitan sejak 2025.
Perubahan tersebut juga disertai berkurangnya asap yang terlihat di permukaan kawah.
Kondisi tersebut diduga dapat memengaruhi jalur keluarnya gas panas dari dalam kawasan kawah.
Gas panas kemudian berpotensi keluar melalui rekahan atau bagian lain dari dinding kawah.
Apabila gas tersebut melewati area yang mengandung belerang, kondisi itu dapat menghasilkan nyala berwarna biru.
Namun, Badan Geologi belum menyimpulkan bahwa penyempitan bukaan Kawah Manuk secara langsung menjadi penyebab munculnya blue fire.
Keterkaitan antara perubahan struktur kawah dan fenomena tersebut masih membutuhkan kajian lebih lanjut.
Blue Fire Papandayan Berbeda dari Kebakaran Biasa
Fenomena blue fire bukan berarti kawasan Gunung Papandayan sedang mengalami kebakaran hutan atau kebakaran biasa.
Cahaya tersebut berkaitan dengan proses panas dan material yang terdapat di lingkungan vulkanik.
Fenomena serupa sebelumnya juga pernah tercatat di Gunung Papandayan pada 2023 dan 2025.
Namun, kemunculan pada September 2026 terjadi di area Kawah Manuk, berbeda dari kejadian sebelumnya yang teramati di dinding Kawah Baru.
Aktivitas Papandayan Masih Level I
Di tengah kemunculan blue fire, Badan Geologi menyatakan tingkat aktivitas Gunung Papandayan masih berada pada Level I atau Normal.
Status tersebut tidak berarti kawasan sekitar kawah dapat dikunjungi tanpa memperhatikan risiko.
Badan Geologi tetap mengingatkan adanya potensi pelepasan gas vulkanik yang konsentrasinya dapat meningkat secara tiba-tiba.
Berdasarkan pemantauan hingga 26 September 2026, sinar api yang sebelumnya terlihat di Kawah Manuk sudah tidak teramati.
Meski demikian, pelepasan gas vulkanik di sekitar lokasi masih perlu diwaspadai karena bau sulfur yang menyengat masih tercium mengikuti arah angin.
Masyarakat dan wisatawan juga direkomendasikan tidak beraktivitas maupun menginap dalam radius 500 meter dari bukaan kawah aktif.
Pengunjung juga diminta mewaspadai gas beracun, kemungkinan letusan tiba-tiba, serta potensi longsor di dinding kawah.
Badan Geologi tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas Kawah Manuk untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali fenomena serupa.
(YS/idn)
yuk, kenalan lebih dekat dengan penulis.

Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI), fokus pada penulisan artikel berbasis riset. Berpengalaman sebagai jurnalis freelance di berbagai media online, mengedepankan akurasi, kredibilitas, dan penyajian informasi yang mudah dipahami.












