indonetra.com – Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Nusa Tenggara Barat, akhirnya berhasil dipadamkan setelah berlangsung sejak 22 September 2026.
Balai Taman Nasional Gunung Rinjani menyatakan tidak lagi menemukan titik api berdasarkan pemantauan terbaru.
Meski api telah padam, petugas gabungan masih disiagakan untuk memastikan tidak ada bara atau titik api tersembunyi yang dapat memicu kebakaran kembali.
Kebakaran Rinjani Berdampak 1.098,75 Hektare
Kebakaran yang melanda kawasan Bukit Setampol dan sekitar Puncak Sangkareang tersebut berdampak pada area yang diperkirakan mencapai 1.098,75 hektare.
Angka tersebut merupakan estimasi sementara berdasarkan pemantauan dan pemetaan hingga 28 September 2026.
Balai TNGR masih dapat memperbarui luasan tersebut setelah proses pemantauan lapangan, pemetaan, dokumentasi udara menggunakan drone, dan verifikasi batas area terdampak selesai dilakukan.
Kebakaran pertama kali terdeteksi pada 22 September 2026 di kawasan TNGR wilayah I, termasuk area Resor Torean dan Senaru.
Penanganan dilakukan oleh tim gabungan dari unsur TNGR, Manggala Agni, TNI, Polri, masyarakat peduli api dan unsur terkait lainnya.
Petugas Masih Pantau Potensi Titik Api Baru
Padamnya api belum langsung membuat penanganan dihentikan.
Petugas masih melakukan penyisiran lokasi bekas kebakaran untuk memastikan tidak terdapat bara yang tersisa di balik vegetasi kering.
Pemantauan udara menggunakan drone juga dilakukan untuk melihat kondisi kawasan yang sebelumnya terbakar serta membantu menentukan lokasi yang masih membutuhkan penanganan.
Sebelumnya, proses pemantauan menghadapi kendala berupa kabut tebal di kawasan Puncak Sangkareang.
Angin kencang dan kondisi vegetasi yang kering juga sempat membuat api lebih mudah bergerak dan menyebar.
Karena itu, pemantauan tetap dilakukan meskipun sistem pemantauan kebakaran tidak lagi menunjukkan titik panas di kawasan tersebut.
Jalur Senaru dan Torean Masih Dievaluasi
Penanganan kebakaran juga berdampak terhadap aktivitas pendakian Gunung Rinjani.
Jalur pendakian Senaru dan Torean masih ditutup sementara dan tidak digunakan sebagai jalur masuk maupun keluar pendakian sampai terdapat keputusan lebih lanjut berdasarkan evaluasi kondisi lapangan.
Pendaki yang sebelumnya menggunakan Senaru atau Torean sebagai jalur keluar diarahkan untuk mengalihkan perjalanan melalui jalur Sembalun.
Balai TNGR bersama unsur terkait melakukan penilaian terhadap kondisi jalur sebelum menentukan kebijakan pembukaan kembali.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kawasan yang terdampak kebakaran benar-benar aman bagi pendaki dan petugas.
Dengan api yang telah berhasil dipadamkan, penanganan kini berlanjut pada pemantauan, pendinginan, evaluasi kawasan terdampak, serta upaya mencegah munculnya kembali titik api.
(YS/idn)
yuk, kenalan lebih dekat dengan penulis.

Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI), fokus pada penulisan artikel berbasis riset. Berpengalaman sebagai jurnalis freelance di berbagai media online, mengedepankan akurasi, kredibilitas, dan penyajian informasi yang mudah dipahami.












