indonetra.com – Wilayah terdampak kabut asap per Sabtu, 17 Oktober 2026, tercatat mencapai 26 wilayah, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Data itu berasal dari pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) lewat citra satelit Himawari-9 pada pukul 10.00 WIB.
BMKG membaca sebaran asap dengan metode RGB, lalu menandainya sebagai poligon merah pada citra satelit.
Arah dan kecepatan angin di lapisan 1.000 milibar serta data titik panas atau hotspot dari Geohotspot ikut dipertimbangkan untuk melacak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Daftar Wilayah Terdampak Kabut Asap per Pulau
Sumatera mencatat sembilan provinsi terdampak, yakni Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Lampung.
Di Pulau Jawa, hanya Banten yang masuk daftar.
Kalimantan terdampak di lima provinsi, yaitu Kalimantan Barat, Tengah, Selatan, Timur, dan Utara.
Sulawesi mencakup Sulawesi Barat, Selatan, Tenggara, dan Tengah, sedangkan Maluku meliputi Maluku dan Maluku Utara.
Papua mencatat lima wilayah, yaitu Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Dari 26 wilayah itu, Sumatera menyumbang sembilan provinsi, sedangkan Kalimantan dan Papua masing-masing lima.
Asap dari Sumatera terdeteksi bergerak menuju Semenanjung Malaysia dan Singapura, sedangkan asap dari Kalimantan menuju Semenanjung Malaysia, Sarawak, dan Singapura.
Fenomena lintas batas ini dikenal sebagai transboundary haze.
Asap di wilayah Papua Selatan juga terdeteksi bergerak menuju Papua Nugini.
Kualitas Udara dan Langkah Aman Saat Kabut Asap
Pada pukul 11.00 WIB, Pangkalan Bun dan Palangka Raya di Kalimantan Tengah tercatat masuk kategori kualitas udara berbahaya yang ditandai warna hitam.
Anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan menjadi kelompok yang paling perlu waspada.
Saat udara berkabut atau berasap pekat, kurangi aktivitas di luar ruangan dan gunakan masker yang sesuai.
Menutup pintu dan jendela ketika kualitas udara memburuk juga membantu mengurangi asap yang masuk ke rumah.
Sebaran asap dapat berubah mengikuti cuaca, titik kebakaran, dan arah angin, sehingga pembaruan dari BMKG tetap menjadi rujukan utama warga.
(YS/idn)
yuk, kenalan lebih dekat dengan penulis.

Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI), fokus pada penulisan artikel berbasis riset. Berpengalaman sebagai jurnalis freelance di berbagai media online, mengedepankan akurasi, kredibilitas, dan penyajian informasi yang mudah dipahami.












