Example floating
Example floating
Gaya Hidup

Apa Arti Kata Denial dalam Bahasa Gaul dan Psikologi

3
×

Apa Arti Kata Denial dalam Bahasa Gaul dan Psikologi

Sebarkan artikel ini
Apa arti kata denial? Simak makna dalam bahasa gaul dan psikologi, tahap berduka, contoh kalimat, serta cara menyikapinya di sini.
Apa arti kata denial? Simak makna dalam bahasa gaul dan psikologi, tahap berduka, contoh kalimat, serta cara menyikapinya di sini.

indonetra.com – Pernahkah kamu melihat teman yang sudah jelas ditinggalkan pasangannya, tetapi tetap bersikeras bahwa hubungan mereka baik-baik saja dan cuma sedang renggang sebentar?

Orang di sekitarnya biasanya langsung berkomentar bahwa dia masih denial, lalu saling bertukar pandang karena sudah lelah mengingatkan.

Kata denial kini sering muncul di media sosial, obrolan sehari-hari, hingga pembahasan psikologi, sehingga banyak orang penasaran dengan makna sebenarnya.

Baca Juga :  Chill Artinya Apa? Ini Penjelasan dan Cara Memakainya

Artikel ini menjelaskan arti kata denial, hubungannya dengan proses berduka, contoh penggunaannya, serta cara menyikapi orang yang sedang berada dalam fase tersebut.

Apa Arti Kata Denial?

Denial berasal dari bahasa Inggris yang secara harfiah berarti penyangkalan, yaitu sikap menolak mengakui sesuatu yang sebenarnya benar atau sedang terjadi.

Dalam bahasa gaul, orang yang denial adalah orang yang menolak menerima kenyataan, meskipun bukti dan fakta di depan matanya sudah sangat jelas.

Istilah ini juga sering dipakai sebagai candaan ringan untuk menggambarkan penggemar yang belum rela idolanya berpacaran atau tim kesayangannya kalah bertanding.

Dengan kata lain, denial adalah cara pikiran menunda rasa sakit karena kenyataan yang ada terasa terlalu berat untuk diterima sekaligus.

Denial dalam Psikologi sebagai Mekanisme Pertahanan Diri

Dalam psikologi, denial dikenal sebagai mekanisme pertahanan diri atau defense mechanism, yaitu cara bawah sadar untuk melindungi seseorang dari rasa cemas dan sakit emosional.

Konsep ini berakar pada teori psikoanalisis yang dikembangkan Sigmund Freud dan kemudian diperluas oleh putrinya, Anna Freud.

Baca Juga :  Arti Awkward dalam Bahasa Indonesia dan Contohnya

Penyangkalan bisa muncul setelah peristiwa berat, seperti kehilangan orang tersayang, diagnosis penyakit, kegagalan usaha, atau berakhirnya sebuah hubungan yang sudah lama dijalani.

Pada tingkat ringan, penyangkalan membantu seseorang mengambil jeda sebelum benar-benar menghadapi masalahnya, sehingga ia tidak langsung kewalahan secara emosional.

Namun jika berlangsung terlalu lama, penyangkalan justru menghambat seseorang mengambil keputusan penting dan mencari bantuan yang sebenarnya sangat ia butuhkan.

Denial sebagai Tahap Pertama Proses Berduka

Istilah ini juga dikenal lewat model lima tahap berduka yang diperkenalkan psikiater Elisabeth Kübler-Ross dalam bukunya pada 1969, dengan denial sebagai tahap pertama.

Tahap Gambaran
Penyangkalan (denial) Menolak percaya bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi
Marah (anger) Merasa kesal dan mencari pihak yang bisa disalahkan
Tawar-menawar (bargaining) Berandai-andai dan mencoba mengubah keadaan
Sedih mendalam (depression) Merasakan kehilangan secara penuh
Penerimaan (acceptance) Mulai berdamai dan menyesuaikan diri dengan keadaan

Model ini awalnya disusun dari pengamatan terhadap pasien yang menghadapi kematian, lalu banyak dipakai untuk menjelaskan berbagai bentuk kehilangan lainnya.

Para ahli menekankan bahwa tahapan tersebut tidak selalu berurutan, dan tidak semua orang mengalami kelimanya dengan cara yang sama.

Contoh Kalimat dengan Kata Denial

  • “Padahal nilainya sudah keluar, tapi dia masih denial dan bilang pasti ada kesalahan input.”
  • “Aku sempat denial waktu tahu kantor tempatku bekerja akan ditutup.”
  • “Fans itu masih in denial soal kabar pertunangan idolanya.”
  • “Berhenti denial, kita harus menghadapi kenyataan ini bersama-sama.”

Kata ini bisa dipakai untuk diri sendiri maupun orang lain, dan biasanya bernada candaan ketika topiknya tidak terlalu serius.

Frasa in denial berarti sedang berada dalam kondisi menyangkal, sedangkan living in denial menggambarkan penyangkalan yang berlangsung cukup lama.

Ciri-ciri Orang yang Sedang Denial

  • Menolak percaya meski bukti sudah sangat jelas
  • Mengalihkan pembicaraan ketika masalah mulai dibahas
  • Meremehkan masalah dengan berkata “tidak apa-apa” berulang kali
  • Menyalahkan faktor luar atau mencari alasan yang tidak masuk akal
  • Menghindari orang atau tempat yang mengingatkan pada masalah

Ciri-ciri tersebut hanyalah gambaran umum dan bukan alat diagnosis, sehingga tidak bisa dipakai untuk menilai kondisi psikologis seseorang secara pasti.

Cara Menyikapi Orang yang Sedang Denial

  • Dengarkan ceritanya tanpa menghakimi
  • Hindari memaksanya segera menerima kenyataan
  • Sampaikan fakta secara pelan dan jelas
  • Tawarkan bantuan yang konkret
  • Dorong ia berkonsultasi dengan tenaga profesional bila berlarut-larut

Memaksa seseorang menerima kenyataan secara mendadak sering justru membuatnya semakin menutup diri, karena penyangkalan itu sendiri berfungsi sebagai perlindungan.

Baca Juga :  Blunder Lagi Artinya Apa? Ini Penjelasan Lengkapnya

Jika penyangkalan berlangsung lama dan mulai mengganggu pekerjaan, hubungan, atau kesehatan, berkonsultasi dengan psikolog atau konselor adalah langkah yang bijak.

Makna Lain Kata Denial

Di luar konteks psikologi, denial juga dipakai dalam arti penolakan resmi, misalnya penolakan permohonan visa, klaim asuransi, atau akses ke sebuah sistem.

Dalam dunia digital, pesan access denied berarti akses ditolak, sedangkan istilah denial of service merujuk pada serangan yang membuat sebuah layanan tidak bisa dipakai.

Kesimpulan

Denial adalah penyangkalan, baik sebagai candaan sehari-hari maupun sebagai mekanisme pertahanan diri yang muncul ketika kenyataan terasa terlalu menyakitkan untuk diterima.

Memahami maknanya membantu kita lebih berempati kepada orang yang sedang menolak kenyataan, sekaligus lebih jujur ketika mengenali penyangkalan dalam diri sendiri.

Jika penyangkalan terasa terlalu lama dan mengganggu hidup, mencari dukungan dari orang terpercaya atau tenaga profesional adalah langkah awal yang sehat.


(YS/idn)


yuk, kenalan lebih dekat dengan penulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *