Example floating
Example floating
Gaya Hidup

Skincare Lokal Makin Beragam, Konsumen Lebih Selektif Memilih Produk

17
×

Skincare Lokal Makin Beragam, Konsumen Lebih Selektif Memilih Produk

Sebarkan artikel ini
Skincare Lokal Makin Beragam, Konsumen Lebih Selektif Memilih Produk
Skincare Lokal Makin Beragam, Konsumen Lebih Selektif Memilih Produk

indonetra.com – Pilihan skincare lokal di Indonesia semakin beragam seiring berkembangnya tren beauty dan perubahan cara konsumen mencari informasi tentang produk perawatan kulit.

Jika sebelumnya rekomendasi skincare lebih banyak diperoleh dari teman, iklan, atau tenaga kecantikan, kini media sosial menjadi salah satu sumber informasi utama bagi masyarakat sebelum menentukan produk yang akan digunakan.

Berbagai konten seperti ulasan produk, rekomendasi bahan aktif, rutinitas perawatan kulit hingga pengalaman pengguna dapat ditemukan dengan mudah melalui platform digital.

Media Sosial Ikut Mengubah Cara Memilih Skincare

Perubahan perilaku konsumen tersebut sejalan dengan semakin besarnya penggunaan media sosial di Indonesia.

Berdasarkan laporan Digital 2026: Indonesia dari We Are Social yang dikutip Suara.com, jumlah pengguna media sosial di Indonesia mencapai 180 juta orang atau sekitar 62,9 persen dari total populasi.

Sekitar tiga dari lima masyarakat Indonesia juga menggunakan media sosial sebagai salah satu saluran untuk mencari informasi mengenai sebuah merek secara online.

Survei APJII 2026 yang dikutip dalam laporan tersebut juga menunjukkan TikTok menjadi platform media sosial yang paling sering diakses masyarakat Indonesia dengan porsi 31,8 persen.

Penggunaan TikTok cukup tinggi di kalangan Gen Z dan milenial, sehingga platform berbasis video tersebut turut menjadi ruang bagi konsumen untuk menemukan informasi mengenai perawatan kulit.

Baca Juga :  Apa Itu Skeptis? Pengertian, Ciri, dan Manfaatnya

Kondisi ini memberikan peluang bagi brand skincare lokal untuk berkomunikasi secara langsung dengan calon konsumen.

Brand tidak hanya perlu menawarkan produk, tetapi juga dituntut mampu memberikan informasi yang membantu masyarakat memahami kebutuhan kulit sebelum mengikuti tren tertentu.

Produk Skincare Lokal Semakin Beragam

Perkembangan industri kecantikan membuat produk skincare lokal tidak lagi terbatas pada kebutuhan dasar seperti pembersih wajah, pelembap, dan tabir surya.

Berbagai produk kini dikembangkan untuk kebutuhan kulit yang lebih spesifik, termasuk perawatan kulit kusam, noda hitam, kulit berjerawat hingga kebutuhan hidrasi.

Suara.com menyoroti Adleeva sebagai salah satu brand lokal asal Bandung yang telah hadir di industri kecantikan Indonesia sejak 2016.

Brand tersebut mengembangkan pendekatan yang menggabungkan produk perawatan kulit, layanan klinik, serta edukasi mengenai perawatan kulit.

Sejumlah produk yang disebutkan antara lain Gentle Deep Cleansing Foam, Glowing Skin Toner, Holy Grail Micro Essence, Your Dreamer Moisturizer, Daylight Cream with Sunscreen, dan Sunglow Lazy Sunscreen.

Untuk kebutuhan kulit kusam, terdapat pula produk seperti Flawless Brightening Booster Serum, Retiglow Booster Whitening & Dark Spot Night Cream, serta Glow-Fusion Overnight Peeling Solution.

Sementara itu, kebutuhan perawatan kulit berjerawat memiliki pilihan seperti Acne Fighter Power Serum, Acne Fighter & Glow Power Nightcream, dan Acne Blemish Spot Treatment.

Beragamnya pilihan tersebut menunjukkan bahwa konsumen kini dapat mencari produk berdasarkan kebutuhan kulit, bukan hanya berdasarkan popularitas sebuah merek.

Baca Juga :  Curriculum Vitae Artinya Apa? Ini Penjelasan Lengkapnya

Tren Beauty Perlu Diimbangi dengan Ketelitian

Besarnya perhatian masyarakat terhadap skincare juga membuat konsumen perlu lebih berhati-hati ketika mendapatkan rekomendasi produk melalui media sosial.

Produk yang viral atau sering muncul di linimasa belum tentu sesuai dengan kondisi kulit setiap orang.

Kandungan aktif, jenis kulit, tujuan penggunaan, serta cara pemakaian perlu menjadi pertimbangan sebelum membeli produk.

Selain itu, aspek legalitas juga tidak boleh diabaikan.

BPOM pada Juli 2026 melaporkan telah mengawasi 9.617 tautan penjualan kosmetik melalui ruang digital dan menemukan 9.042 tautan atau 94,02 persen yang tidak memenuhi ketentuan.

Dari temuan tersebut, pelanggaran paling banyak berkaitan dengan kosmetik tanpa izin edar atau TIE.

BPOM juga menemukan kosmetik yang mengandung bahan berbahaya atau bahan yang dilarang serta produk dengan klaim atau cara penggunaan yang tidak sesuai dengan definisi kosmetik.

Baca Juga :  Apa Itu Tes Fleksibilitas? Pengertian, Manfaat, dan Jenis-Jenisnya

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kemudahan membeli skincare melalui marketplace dan media sosial juga perlu diimbangi dengan kemampuan konsumen dalam memeriksa produk.

BPOM mengingatkan masyarakat untuk menerapkan prinsip Cek KLIK, yakni mengecek Kemasan, Label, Izin edar, dan Kedaluwarsa sebelum membeli atau menggunakan kosmetik.

Konsumen juga disarankan tidak mudah tergiur oleh klaim yang berlebihan maupun harga produk yang tidak wajar.

Dengan semakin banyaknya pilihan skincare lokal, masyarakat sebenarnya memiliki lebih banyak kesempatan untuk menemukan produk yang sesuai dengan kebutuhannya.

Namun, tren beauty sebaiknya tidak membuat konsumen sekadar mengikuti produk yang sedang populer.

Pemilihan skincare tetap perlu mempertimbangkan kondisi kulit, kandungan produk, legalitas, serta informasi penggunaan yang benar.

Di sisi lain, perkembangan industri skincare lokal dan meningkatnya penggunaan media sosial membuka ruang yang semakin besar bagi brand dalam memberikan edukasi kepada konsumen.

(YS/idn)


yuk, kenalan lebih dekat dengan penulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *